Update Harga Emas 1 Februari 2026: Volatilitas Januari & Proyeksi

Update Harga Emas 1 Februari 2026: Volatilitas Januari dan Proyeksi Kenaikan

Memasuki awal bulan Februari 2026, Harga Emas 1 Februari 2026 menunjukkan pergerakan yang cenderung stabil untuk beberapa jenis, meskipun pasar baru saja melewati bulan Januari yang penuh gejolak signifikan. Investor dan pelaku pasar komoditas terus mencermati dinamika harga logam mulia ini di tengah ketidakpastian ekonomi global dan ekspektasi kebijakan moneter bank sentral. Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di akhir Januari, harga emas mengalami koreksi tajam, meninggalkan pertanyaan besar mengenai arah pergerakannya di bulan-bulan mendatang.

Pergerakan Harga Emas pada 1 Februari 2026

Pada hari Minggu, 1 Februari 2026, harga emas di pasar domestik menunjukkan stabilitas yang bervariasi tergantung jenis dan platformnya. Harga emas digital terpantau cenderung stabil. Sebagai contoh, Lakuemas mencatat harga beli emas digital sebesar Rp 2.709.000 per gram dan harga jual Rp 2.641.000 per gram, keduanya turun Rp 92.000 dari hari sebelumnya. Sementara itu, harga emas perhiasan di pasar ritel Indonesia juga terpantau stabil. Di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), harga emas murni bertahan di Rp 8.900.000 per mayam (3,3 gram). Untuk emas batangan Antam, harga 1 gram tercatat sekitar Rp 2.917.000. Beberapa sumber lain menunjukkan harga emas batangan 1 gram di angka Rp 2.981.000. Stabilitas ini memberikan sedikit jeda bagi investor setelah volatilitas tinggi yang terjadi di penghujung Januari.

Kilasan Pergerakan Harga Emas Sepanjang Januari 2026

Bulan Januari 2026 menjadi saksi bisu pergerakan harga emas yang sangat dinamis, mencerminkan respons pasar terhadap berbagai faktor ekonomi dan geopolitik. Logam mulia ini sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) sebelum akhirnya terkoreksi tajam. Pada Kamis, 28 Januari 2026, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melonjak signifikan sebesar Rp 165.000, mencapai level Rp 3.168.000 per gram. Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa untuk emas Antam. Sehari setelahnya, pada 29 Januari 2026, harga emas dunia di pasar spot sempat mendekati US$ 5.600 per ons troi, sebelum ditutup di level US$ 5.375,24 per ons troi. Harga emas spot global juga menguat 1,99% ke US$ 5.506,86 per troy ons, setara sekitar Rp 3,15–3,18 juta per gram di pasar domestik.

Namun, tren kenaikan ini tidak bertahan lama. Pada Jumat, 30 Januari 2026, harga emas Antam melemah Rp 48.000 ke posisi Rp 3.120.000 per gram. Koreksi yang lebih dalam terjadi pada Sabtu, 31 Januari 2026, di mana harga emas batangan Antam turun tajam sebesar Rp 260.000, mencapai level Rp 2.860.000 per gram. Harga buyback emas Antam pada tanggal yang sama berada di Rp 2.654.000 per gram. Penurunan drastis ini menunjukkan tekanan ambil untung setelah reli panjang dan mencerminkan volatilitas pasar yang tinggi.

Berikut adalah ringkasan pergerakan harga emas Antam 1 gram di akhir Januari 2026:

Tanggal Harga Emas Antam (per gram) Keterangan
28 Januari 2026 Rp 3.168.000 Mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (ATH)
29 Januari 2026 Rp 3.168.000 Stabil di level ATH
30 Januari 2026 Rp 3.120.000 Melemah Rp 48.000
31 Januari 2026 Rp 2.860.000 Turun tajam Rp 260.000
1 Februari 2026 Rp 2.917.000 Cenderung stabil/menguat tipis dari penutupan sebelumnya

Faktor-faktor Pendorong dan Penahan Harga Emas

Pergerakan harga emas yang fluktuatif di Januari dan proyeksi ke depan dipengaruhi oleh sejumlah faktor global yang kompleks:

  • Ketidakpastian Ekonomi Global: Perlambatan ekonomi di beberapa negara besar, risiko resesi, dan meningkatnya beban utang global membuat investor beralih ke emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
  • Tekanan Inflasi: Meskipun ada upaya menekan inflasi, risiko kenaikan harga barang dan jasa masih ada. Emas secara historis digunakan sebagai instrumen perlindungan nilai terhadap inflasi. IMF memprediksi inflasi utama global akan melambat menjadi 3,8% pada 2026.
  • Kebijakan Suku Bunga Bank Sentral: Kebijakan moneter bank sentral utama, terutama Federal Reserve (The Fed) AS, memiliki pengaruh besar. The Fed memutuskan menahan suku bunga di level 3,50–3,75% pada 29 Januari 2026 setelah serangkaian pemangkasan di 2025. Suku bunga yang lebih rendah cenderung melemahkan dolar AS, membuat emas lebih menarik. Bank Indonesia (BI) juga mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75% pada 20-21 Januari 2026.
  • Ketegangan Geopolitik: Konflik di Timur Tengah, Rusia-Ukraina, dan ketegangan di Asia Timur meningkatkan permintaan emas sebagai aset aman.
  • Pembelian Agresif Bank Sentral: Banyak bank sentral dunia terus menambah cadangan emas sebagai diversifikasi dari dolar AS, memperkuat permintaan jangka panjang.

Proyeksi Harga Emas untuk Februari dan Sepanjang 2026

Meskipun Januari ditutup dengan koreksi, prospek harga emas untuk Februari dan sepanjang tahun 2026 tetap optimis di mata banyak analis. CoinCodex memperkirakan harga emas per ons akan berada di kisaran US$ 4.653–US$ 4.783 pada Februari 2026, menunjukkan tren kenaikan dari rata-rata Januari. Jika dikonversi ke nilai di Indonesia, ini setara sekitar Rp 2,50 juta per gram.

Untuk jangka panjang, prediksi kenaikan harga emas di tahun 2026 sangat kuat. Analis dari PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas dunia dapat meroket hingga US$ 6.500 per troy ons tahun ini, sementara harga emas Antam berpotensi menyentuh Rp 4,2 juta per gram. Bahkan, Deutsche Bank memprediksi harga emas di pasar spot dunia akan mencapai US$ 6.000 per ons troi pada 2026, dengan potensi mencapai US$ 6.900 dalam skenario alternatif. Proyeksi ini didukung oleh memudarnya kepercayaan investor terhadap aset uang fiat dan peningkatan permintaan dari bank sentral.

Analisis Ahli

“Meskipun terjadi koreksi di akhir Januari, fundamental emas sebagai aset lindung nilai tetap kuat. Ketidakpastian ekonomi global, inflasi yang persisten, dan kebijakan suku bunga yang cenderung akomodatif akan terus menjadi pendorong utama kenaikan harga emas sepanjang 2026. Investor harus melihat volatilitas jangka pendek sebagai peluang untuk akumulasi, terutama dengan target harga yang ambisius dari berbagai lembaga riset.”

— Dr. Karina Wijaya, Analis Komoditas Senior di Global Insight Research.

Kesimpulan dan Rekomendasi Investor

Setelah bulan Januari yang penuh dinamika, Harga Emas 1 Februari 2026 menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, namun dengan proyeksi kenaikan yang signifikan sepanjang tahun. Fluktuasi tajam di Januari, termasuk pencapaian rekor tertinggi dan koreksi mendalam, menggarisbawahi pentingnya strategi investasi yang cermat. Faktor-faktor makroekonomi seperti inflasi, suku bunga, dan ketegangan geopolitik akan terus menjadi penentu utama arah harga emas. Bagi investor, emas tetap menjadi pilihan menarik sebagai diversifikasi portofolio dan lindung nilai terhadap ketidakpastian. Disarankan untuk melakukan pembelian secara bertahap (dollar-cost averaging) untuk memitigasi risiko volatilitas dan memanfaatkan potensi kenaikan jangka panjang yang diproyeksikan oleh para ahli.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Mengapa harga emas mengalami volatilitas tinggi di Januari 2026?

Harga emas di Januari 2026 mengalami volatilitas tinggi karena kombinasi faktor. Ini termasuk pencapaian rekor tertinggi yang memicu aksi ambil untung (profit taking), serta respons pasar terhadap data ekonomi global, ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral, dan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut.

2. Apa saja faktor utama yang diprediksi akan mendorong kenaikan harga emas di tahun 2026?

Faktor utama yang diprediksi akan mendorong kenaikan harga emas di tahun 2026 meliputi ketidakpastian ekonomi global, tekanan inflasi yang masih tinggi, kebijakan suku bunga bank sentral yang cenderung melonggar, ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, dan pembelian emas secara agresif oleh bank sentral di berbagai negara.

3. Berapa proyeksi harga emas Antam per gram di tahun 2026?

Beberapa analis memproyeksikan harga emas Antam dapat mencapai level yang signifikan di tahun 2026. Ibrahim Assuaibi dari PT Laba Forexindo Berjangka memperkirakan harga emas Antam berpotensi menyentuh Rp 4,2 juta per gram.

Sumber: Pintu News, Investor Daily, Kontan, Kompas Money, BeritaSatu.com, Radar Banyuwangi, Radar Tulungagung, Asumsi Sultra, Tirto.id, Bareksa.com, Tribunkalteng.com.

Tinggalkan komentar