Harga Emas Melonjak: Mengapa Terus Naik, Hari Ini, & Proyeksi

Dinamika Harga Emas Hari Ini: Sempat Mencetak Rekor, Kini Koreksi Tipis

Dalam beberapa waktu terakhir, fenomena harga emas naik telah menjadi sorotan utama di pasar keuangan global dan domestik. Logam mulia ini terus menunjukkan performa yang mengesankan, bahkan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Januari 2026. Pada perdagangan Kamis (29/1/2026), harga emas dunia resmi menembus level krusial US$5.500 per troy ons, memperpanjang reli tajam yang telah berlangsung lebih dari sepekan. Bahkan, harga emas dunia sempat menyentuh rekor tertinggi US$5.594,82 per troy ons sebelum mengalami koreksi. Secara historis, emas mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar US$5608,35 pada Januari 2026.

Namun, pada Jumat, 30 Januari 2026, harga emas Antam di pasar domestik terpantau mengalami sedikit koreksi. Harga emas Antam 1 gram tercatat Rp3.120.000, turun dari hari sebelumnya yang mencapai Rp3.168.000 per gram. Koreksi ini terjadi setelah investor mengambil keuntungan (profit-taking) menyusul lonjakan harga yang signifikan. Meskipun demikian, harga emas spot dunia pada Jumat (30/1/2026) hingga pukul 06.17 WIB kembali menguat 0,30% di posisi US$5.409,64 per troy ons. Sepanjang bulan ini, harga emas spot masih naik sekitar 24%, menjadikannya bulan terbaik sejak tahun 1980-an.

Harga Emas Antam Hari Ini, 30 Januari 2026

Berat (Gram) Harga (Rupiah)
0,5 Rp1.610.000
1 Rp3.120.000
2 Rp6.190.000
3 Rp9.267.000
5 Rp15.415.000
10 Rp30.750.000
25 Rp76.710.000
50 Rp153.255.000
100 Rp306.400.000

*Harga dapat bervariasi tergantung lokasi dan waktu pembelian. Data diambil dari sumber terpercaya pada 30 Januari 2026.

Mengapa Harga Emas Terus Naik? Faktor Pendorong di Balik Kilau Logam Mulia

Kenaikan harga emas yang fenomenal ini tidak terjadi tanpa alasan. Sejumlah faktor fundamental dan sentimen pasar global berkolaborasi mendorong permintaan dan nilai emas. Berikut adalah beberapa penyebab utama mengapa harga emas terus naik:

Ketidakpastian Ekonomi dan Geopolitik Global

  • Konflik dan Ketegangan Geopolitik: Konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, serta ketegangan di Asia Timur dan antara AS-NATO terkait isu Greenland, menciptakan iklim ketidakpastian yang tinggi. Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang paling aman di tengah gejolak politik dan ekonomi.
  • Kekhawatiran Resesi dan Perlambatan Ekonomi: Perlambatan ekonomi di beberapa negara besar dan risiko resesi membuat investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke emas.

Pelemahan Dolar AS dan Kebijakan Suku Bunga The Fed

  • Dolar AS Melemah: Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah, bahkan berada di level terendah dalam hampir empat tahun terakhir, menjadikan emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Hal ini secara otomatis meningkatkan permintaan global terhadap emas.
  • Kebijakan Moneter The Fed: Keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk menahan suku bunga di level rendah atau bahkan memangkasnya, seperti yang diperkirakan pasar akan terjadi pada bulan Juni, turut melemahkan dolar dan mendorong harga emas. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi daya tarik aset berbasis bunga dan membuat emas, yang tidak menawarkan imbal hasil, menjadi lebih menarik.

Inflasi dan Permintaan Aset Riil

  • Tekanan Inflasi: Meskipun beberapa negara berhasil menekan inflasi, risiko kenaikan harga barang dan jasa masih tetap ada. Emas secara historis berfungsi sebagai instrumen perlindungan nilai terhadap inflasi, di mana nilainya cenderung bertahan atau bahkan naik saat daya beli mata uang menurun.
  • Permintaan Aset Non-Dolar dan Cadangan Bank Sentral: Investor dan bank sentral di banyak negara semakin gencar mengalokasikan investasi ke aset non-dolar dan aset riil, termasuk emas, sebagai upaya melindungi nilai kekayaan di tengah potensi devaluasi uang fiat.

Keterbatasan Pasokan Fisik

Di pasar domestik, pasokan emas fisik yang terbatas juga menjadi salah satu pemicu kenaikan harga. Ketersediaan yang minim menyebabkan antrean pembelian di sejumlah tempat dan turut mendorong harga naik.

“Kita melihat aksi jual dramatis setelah logam mulia mencapai rekor tertinggi baru-baru ini,” ujar David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, mengutip CNBC.com. “Namun, harga emas spot masih naik sekitar 24% untuk bulan ini dan 7% sejauh minggu ini.”

Proyeksi Harga Emas ke Depan: Akankah Terus Melambung Tinggi?

Melihat tren kenaikan yang kuat dan faktor-faktor pendorong yang masih relevan, para analis dan lembaga keuangan global memproyeksikan bahwa harga emas akan terus menunjukkan tren positif di masa depan, khususnya sepanjang tahun 2026.

  • UBS menaikkan perkiraan harga emasnya menjadi US$6.200 per troy ons untuk tiga kuartal pertama tahun ini, meskipun memproyeksikan penurunan menjadi US$5.900 per troy ons pada akhir tahun 2026.
  • Deutsche Bank memprediksi harga emas di pasar spot dunia akan mencapai US$6.000 per ons troi pada tahun 2026 ini, bahkan berpotensi meningkat hingga US$6.900 dalam skenario alternatif.
  • Societe Generale juga memberikan prediksi serupa, mematok angka US$6.000 per ons troi hingga Desember 2026.
  • Analis domestik, seperti Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas dunia dapat meroket hingga US$6.500 per troy ons tahun ini, sementara harga emas Antam berpotensi menyentuh Rp4,2 juta per gram pada tahun 2026.

Secara keseluruhan, sentimen pasar terhadap emas tetap bullish. Meskipun ada potensi koreksi sehat setelah lonjakan tajam, seperti yang terlihat pada akhir Januari, struktur bullish utama emas masih terjaga. Ketidakpastian global yang berkelanjutan, kebijakan moneter yang akomodatif, dan minat yang terus meningkat terhadap aset lindung nilai akan terus menjadi pendorong utama bagi harga emas.

Strategi Investasi di Tengah Volatilitas Emas

Dengan proyeksi kenaikan harga emas yang signifikan, pertanyaan yang muncul bagi investor adalah: apakah ini waktu yang tepat untuk membeli atau menjual? Para ahli menyarankan investor untuk meninjau kembali tujuan investasi mereka. Jika tujuannya untuk jangka panjang (di atas 2 tahun), maka membeli atau menahan (hold) emas saat ini merupakan langkah bijak, karena secara historis, tren harga emas selalu mengalahkan inflasi dalam jangka panjang. Namun, bagi investor yang sudah memegang emas dari harga bawah dan membutuhkan dana cepat, mereka bisa memanfaatkan momen ini untuk mengambil keuntungan. Penting juga untuk selalu membeli emas dari penjual resmi dan terpercaya serta memeriksa sertifikat keasliannya, mengingat risiko emas palsu yang meningkat saat harga tinggi.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa itu aset safe haven dan mengapa emas termasuk di dalamnya?

Aset safe haven adalah investasi yang cenderung mempertahankan atau bahkan meningkatkan nilainya selama periode gejolak pasar. Emas dianggap sebagai safe haven karena nilainya tidak bergantung pada kebijakan satu negara atau mata uang tertentu, serta memiliki sejarah panjang sebagai penyimpan nilai yang stabil di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Apakah ini waktu yang tepat untuk membeli emas?

Keputusan untuk membeli emas sangat tergantung pada tujuan investasi Anda. Jika Anda berinvestasi untuk jangka panjang (lebih dari dua tahun) dan ingin melindungi nilai aset dari inflasi serta ketidakpastian ekonomi, maka emas tetap menjadi pilihan yang menarik. Namun, untuk investasi jangka pendek, perlu diwaspadai potensi koreksi harga setelah lonjakan tajam.

Faktor apa saja yang paling dominan mempengaruhi harga emas?

Faktor paling dominan yang mempengaruhi harga emas saat ini meliputi ketidakpastian geopolitik global, pelemahan nilai tukar dolar AS, kebijakan suku bunga bank sentral (terutama The Fed), tekanan inflasi, serta peningkatan permintaan dari investor dan bank sentral terhadap aset riil dan non-dolar.

Sumber: Kompas.tv, CNBC Indonesia, Trading Economics, Tirto.id, Kumparan.com, Kompas Money, USM TV, Treasury, Raja Emas Indonesia, Indo Premier Sekuritas, Serambinews.com, FXStreet, TradingView.

Tinggalkan komentar